Cukup Jelas !!
Dalam Pilkada era kontemporer, potensi terjadinya konflik pasca penghitungan suara sangatlah besar. Frekuensinya cenderung menunjukkan arah jarum yang tinggi. Tentunya ini sangatlah ironis dalam maksud kaitannya untuk memilih pemimpin yang bertitel “pengayom rakyat”.
Kisruh, runyam, itu adalah hal biasa yang kita dengar sekarang ini. Mengapa hal ini terjadi ? Apakah ini adalah bumbunya demokrasi ?
Ikhlas ! Begitu sulit untuk menerima kekalahan.
Perlu ditinjau ulang kembali untuk memberikan jawaban yang paling simpel kepada paca calon pemimpin tersebut, apa motivasi mereka untuk maju dalam arena pilkada ? Apakah untuk memenuhi aspirasi rakyat ? Atau hanya nafsu kekuasaan belaka ? Mencari kursi kekuasaan mungkin ?
Kalau sudah dalam pilihan terakhir ini, maka yang fital bermain adalah ambisius untuk berkuasa, kuat diatas lemah dibawah ! Mustahil untuk melindungi, mengayomi dan boro-boro menyejahterakan rakyat. Paling banter ambisi jadi pemimpin adalah untuk mencari kekayaan melalui kursi kekuasaan. Balikin modal (+) lah…
Modal (+) tidak lebih daripada sistem jual beli. Harga jual harus lebih tinggi untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari harga pembelian. Ini hal lazim yang tidak perlu dibahas panjang lebar disini.
Disini akan kelihatan bagaimana para kandidat pemimpin akan mengunakan berbagai cara untuk meggolkan ambisinya. Sehingga muncullah sebuah hasrat yang kuat untuk menang, apalagi modal yang sudah dikeluarkan menggunung jumlahnya.
Memang adalah hal biasa ketika para kandidat siap bertarung, maka posisi dompet pun haruslah tebal, kalau tidak mungkin alternatif lain adalah mempunyai beking permodalan yang kuat dari pengusaha kelas kakap misalnya. Dari para penyandang dana lah biasanya percik api konflik ini mulai membesar, maklum mereka sudah banyak menyuplai dana. Kerugian dana, kedudukan partai menjadi pertaruhan yang tak pelak lagi. Para penyandang dana biasanya paling getol menggugat dan mengerahkan massa bila kandidatnya kalah dalam pilkada.
Jadi, adalah hal yang irasional kalau ada kandidat pemimpin yang akan ikut bertarung dalam pilkada dia tidak punya modal yang cukup, walaupun hal itu masih memungkinkan terjadi di seantero jagad ini. Nah, inilah benang yang saya dapat simpulkan bahwa, seorang pemimpin, entah itu Bupati, Gubernur, atau Presiden lebih cenderung terlahir dari kaum yang bermodal besar…
Cukup Jelas !!