Musim haji hampir berlalu…
tahun baru akan berganti, tahukah kau ? Yup…dipenghujung tahun ini segala rekaman peristiwa setahun yang lewat banyak diputar kembali flay back.
Tak jauh dari masalah itu, sebenarnya kamu tau tidak kenapa di Indonesia sebutan yang punya “titel” Haji (Hajjah) identik dalam kesehariannya memakai “pakaian” yang berbeda dari orang yang belum Haji ? Contohnya ? Tuh lihat yang bertengger dikepala sang Haji, peci berwarna Putih dan “Bulang” jilbab khusus bagi Hajjah (sebutan khusus bagi perempuan yang sudah menunaikan ibadah haji).
Yah…mungkin kurang afdhal kalau peci yang dipakai bukan berwarna putih..Tapi cobalah anda tanyakan pada sang Haji, tahukah kenapa sepulang dari Mekkah dia berubah pakai peci putih ? Padahal sebelumnya dia pakai merah, kuning, hijau bahkan biru ??
Paling banter jawabannya adalah putih melambangkan kebersihan, kesucian..Karena orang yang pulang dari berhaji dianggap telah menyucikan dirinya…
Yup, kita bahas sedikit :
1. Kopiah haji
Menurut telusuran sejarah, kopiah haji di Indonesia sudah dari zaman dulu dipakai dan digunakan pada abad antah berantah. Mungkin kita bertanya, kenapa tidak memakai pakaian Gamis saja seperti tanah Arab ? Kan baru pulang haji dari tanah Arab ?
Lagi pula Arab dulu gak pakai kopiah haji, mereka pakai sorban kan ? Saya tidak bisa menjawab !
Tapi yang ingin saya tekankan di adalah bahwa di Indonesia saat itu berhubungan erat dengan era kolonial. Kolonial pada masa itu menganggap orang yang pulang dari berhaji akan banyak mempengaruhi orang lain disekitarnya dengan pola pikir yang baru hasil dari “lawatan” luar negeri. Padahal, era kolonial boleh dikatakan pengkebirian pemikiran pribumi.
Alhasil, kolonial pada masa itu mengangap orang yang pulang dari berhaji dianggap berbahaya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya gerakan dan perlawanan pribumi yang dipimpin oleh “Haji”, walaupun masih bersifat lokal. Muncullah ide saat itu, bahwa orang yang pulang dari berhaji harus diberi cap atau tanda khusus agar pergerakannya dapat dipantau dengan jelas oleh kolonial. Cap atau tanda khusus tersebut adalah dengan diharuskannya memakai “kopiah haji/berwarna putih”.
2. “Bulang” (jilbab khusus hajjah)
Memiliki sejarah plus minus dengan kopiah haji.
Tetapi yang ingin saya katakan disini adalah….
//Dan lihatlah sang Hajjah, mayoritas setelah berhaji mereka memakai “bulang” jilbab khusus terbuka, sehingga menampakkan leher mereka yang note bene itu adalah aurat wanita ?//
Bagaimana ? Apakah hanya untuk membedakan diri dari status haji/hajjah harus menampakkan aurat ??